
Tahun 1983 ketika menginjakkan kaki di tlatah bumi Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan, hatiku terasa lain, ketika aku menemani pamanku mendapatkan undangan dari Pamen Kepolisian Polda Palembang yang waktu itu menjabat sebagai Kadispen (Kepala Dinas Penerangan)untuk membuat taman di halaman rumahnya. Sambil membantu membuat taman, kulayangkan beberapa surat lamaran kerja kebeberapa instansi / lembaga untuk mendapatkan kerja yang tetap.
Salah satu dari lamaran kerjaku diterima di suatu Instansi Sosial dan aku ditempatkan di daerah Pasang Surut. Sesuai namanya, daerahnya tersebut memang airnya tergantung dari pasang surutnya air laut. Daerah tersebut merupakan daerah transmigran yang masih dalam pembinaan di KUPT (Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi), Babinsa (Badan Pembina Desa), dan sebagainya.
Daerah tersebut merupakan lahan gambut, karena kondisi tanah di beberapa tempat terlihat sangat empuk atau membal bila kita injak-injak/loncat-loncat, dengan kondisi air yang agak payau.
Transportasi masih banyak yang menggunakan air, perahu, speedboat, "Ketek", dan sebagainya.


